Selamat datang di blog Femy Ariefiane Chandra semoga bermanfaat dan selamat membaca ☺

Senin, 29 Desember 2014

Laporan Bimbingan dan Konseling Karir

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Ada berbagai macam permasalahan yang dihadapi siawa salah satunya adalah karir. Dalam pemilihan karir ataupun jurusan seringkali mengalami masalah dan kebingungan dalam menentukan pilihannya. Hal tersebut dapat menyebabkan timbulnya pertentangan dalam diri individu. Selain kebingungan dalam memilih jurusan, individu juga seringkali dituntut oleh orang tua dalam memilih jurusan yang tidak sesuai dengan minatnya yang sebenarnya tidak sesuai dengan kemampuannya. Selain itu permasalahan lain adalah biasanya individu hanya mengikuti teman sebayanya saja, tidak ada pertimbangan pada minat dan bakatnya. Tentunya hal ini akan menjadikan individu memiliki suatu beban yang mengganggu proses belajarnya. Dan kebutuhan yang terkait dengan individu untuk meningkatkan pemahaman tentang karier adalah melalui Bimbingan Konseling Karir yang merupakan salah satu bagian dari bidang Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan di sekolah.
Maka dari itu sebagai seorang konselor haruslah memberikan suatu layanan informasi dalam  bimbingan konseling karir guna memberi pemahaman dan memberikan informasi kepada individu agar tidak mengalami kebingungan dalam memutuskan pilihan karir kedepannya. Dengan adanya layanan dalam bimbingan kobselingkarier membantu siswa untuk mempermudah dalam menentukan karier yang akan dipilih kedepannya.

1.2  Tujuan
Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah sebagai berikut:
1.        Memberikan bantuan kepada siswa terhadap pemilihan karier.
2.        Membantu siswa untuk mendapatkan informasi mengenai karier.
3.        Membantu siswa untuk mandiri dalam meilih karier sesuai dengan potensi yang ada pada diri siswa tersebut.

1.3  Tempat dan Waktu
Adapun waktu dan tempat pelaksanaan bimbingan konseling karir adalah:
1.        Tempat
Tempat pelaksanaan Bimbingan Konseling Karir ini dilaksanakan di Gedung A1-104, Fakultas Ilmu Pendidikan, UNNES.

2.        Waktu
Waktu pelaksanaan praktik bimbingan konseling karir ini didasarkan atas kesepakatan antara praktikan dengan dosen pembimbing, yaitu pada tanggal 5 November 2014 pukul 11.30 WIB di gedung A1-104 FIP dan pada tanggal 19 November 2014 pukul 11.30 WIB di gedung A1-104, FIP.
1.4  Persiapan Konselor
1.4.1        Akademik
Persiapan akademik adalah persiapan yang dilakukan  oleh praktikan sebelum melakukan bimbingan karir. Praktikan mencari masalah yang dialami siswa dilihat berdasarkan derajat permasalahannya. Pada hal ini, yang diambil adalah derajat permasalahan dengan kategori E dan D. Setelah mencari masalah apa yang harus ditangani, kemudian praktikan membuat RPLBK dan SATLAN, serta mencari referensi terkait materi layanan yang akan disampaikan pada pertemuan di kelas.

1.4.2        Fisik dan Psikis
Adapun hal-hal yang disiapkan oleh praktikan dari segi fisik dan psikis, antara lain:
1.         Praktikan berlatih menyampaikan layanan di depan teman-teman praktikan sebelum menyampaikan layanan di kelas.
2.         Menjaga kesehatan.
3.         Mentaati peraturan dan kode etik konseling.

1.4.3        Administratif
Persiapan administratif yang dilakukan oleh praktikan adalah sebagai berikut:
1.         Praktikan mempersiapkan materi, RPLBK, SATLAN, Leiseg, dan instrumen penilaian.
2.         Penggandaan instrumen penilaian yang dibagikan kepada observer.
3.         Praktikan menjelaskan maksud dan tujuan dari pemberian layanan yang diberikan.















BAB II
KERANGKA KONSEPTUAL
PRAKTIK BIMBINGAN DAN KONSELING KARIR

2.1  Pengertian, Tujuan, Asas, Manfaat
2.1.1        Pengertian Bimbingan Karir
            Bimbingan karir juga merupakan salah satu bidang dalam bimbingan dan konseling yang ada di sekolah-sekolah. Menurut Winkel (2005:114) bimbingan karir adalah bimbingan dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja, dalam memilih lapangan kerja atau jabatan /profesi tertentu serta membekali diri supaya siap memangku jabatan itu, dan dalam menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan dari lapanan pekerjaan yang dimasuki. Bimbingan karir juga dapat dipakai sebagai sarana pemenuhan kebutuhan perkembangan peserta didik yang harus dilihat sebagai bagaian integral dari program pendidikan yang diintegrasikan dalam setiap pengalaman belajar bidang studi.
Bimbingan karir adalah suatu proses bantuan, layanan dan pendekatan terhadap individu (siswa/remaja), agar individu yang bersangkutan dapat mengenal dirinya, memahami dirinya, dan mengenal dunia kerja merencankan masa depan dengan bentuk kehidupan yang diharapkan untuk menentukan pilihan dan mengambil suatu keputusan bahwa keputusannya tersebut adalah paling tepat sesuai dengan keadaan dirinya dihubungkan dengan persyaratan-persyaratan dan tunutan pekerjaan / karir yang dipilihnya (Ruslan A.Gani : 11)
Menurut Herr bimbingan karir adalah  suatu perangkat, lebih tepatnya suatu program yang sistematik, proses, teknik, atau layanan yang dimaksudkan untuk membantu individu memahami dan berbuat atas dasar pengenalan diri dan pengenalan kesempatan-kesempatan dalam pekerjaan, pendidikan, dan waktu luang, serta mengembangkan ketrampilan-ketrampilan mengambil keputusan sehingga yang bersangkutan dapat menciptakan dan mengelola perkembangan karirnya (Marsudi, 2003:113).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bimbingan karir adalah suatu upaya bantuan terhadap peserta didik agar dapat mengenal dan memahami dirinya, mengenal dunia kerjanya, mengembangkan masa depan sesuai dengan bentuk kehidupan yang diharapkannya, mampu menentukan dan mengambil keputusan secara tepat dan bertanggungjawab.

2.1.2   Tujuan Bimbingan dan Konseling Karir
          Secara rinci tujuan dari praktik bimbingan karir tersebut ialah membantu siswa agar (Bimo Walgito, 2005:195-196):
1.         Dapat memahami dan menilai dirinya sendiri, terutama yang berkaitan dengan potensi yang ada dalam dirinya mengenai kemampuan, minat, bakat, sikap dan cita-citanya.
2.         Menyadari dan memahami nilai-nilai yang ada dalam dirinya dan yang ada dalam masyarakat.
3.         Mengetahui berbagai jenis pekerjaan yang berhubungan dengan potensi yang ada dalam dirinya, mengetahui jenis-jenis pendidikan dan latihan yang diperlukan bagi suatu bidang tertentu, memahami hubungan usaha dirinya yang sekarang dengan masa depan.
4.         Menemukan hambatan-hambatan yang mungkin timbul yang disebabkan oleh dirinya sendiri dan faktor lingkungan, serta mencari jalan untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut.
5.         Dapat merencanakan masa depannya serta menemukan karir dan kehidupan yang serasi, yang sesuai. (Depdikbub, Petunjuk Pelaksanaan bimbingan Karir,1985).
2.1.3        Asas Bimbingan dan Konseling Karir
3        1. Asas Kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin.
2. Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.
3. Asas keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Agar konseli dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.
4. Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.
5. Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri.
Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli.
6. Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.
7. Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu
kewaktu.
8. Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadu. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
9. Asas Keharmonisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai dan norma tersebut.
10. Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.
11. Asas Alih Tangan Kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain ; dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain.
12. Asas tut wuri handayani, yaitu asas BK yang menghendaki agar pelayanan BK secara keseluruhan dapat menciptakan suasana yang mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, memberikan rangsangan dan dorongan serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (konseli) untuk maju. Segenap asas perlu diselenggarakan secara terpadu dan tepat waktu yang satu tidak perlu didahulukan atau dikemudiankan dari yang lain. Contoh: konselor dimata pihak sekolah adalah contoh teladan yang baik, yang bisa ditiru oleh siswa.

4          Manfaat Bimbingan dan Konseling Karir
Bimbingan karir ini perlu dan penting untuk diberikan kepada para siswa, baik SMP maupun SMA dengan alasan sebagai berikut (Bimo Walgito, 2010):
a.       Para siswa di tingkat SMA pada akhir semester 2 perlu menjalani pemilihan program studi atau penjurusan. Walaupun ada kata “memilih”, namun sebenarnya telah adanya batas tertentu dalam pengambilan program karena adanya persyaratan yang terkait dengan prestasi akademik dari siswa yang bersangkutan. Dalam pemilihan ini, diperlukan adanya kecermatan, serta perhitungan yang mantap dan tepat. Oleh karena itu, siswa memerlukan adanya bimbingan.
b.      Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua siswa yang tamat dari SMA akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Siswa yang akan langsung terjun ke dunia kerja tentu memerlukan bimbingan karir ini agar siswa dapat bekerja dengan senang dan baik.
c.       Siswa SMA merupakan angkatan kerja yang potensial. Oleh karena itu, diperlukan persiapan yang sebaik-baiknya untuk menghadapi masa depan, serta menyiapkan dengan baik pekerjaan-pekerjaan atau jabatan-jabatan yang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka. Untuk mempersiapkan hal tersebut, diperlukan adanya bimbingan karir.
d.      Pada kenyataannya, para siswa SMA sedang berada dalam masa remaja yang merupakan masa peralihan dari masa anak ke masa dewasa. Sehubungan dengan itu, mereka memerlukan bimbingan termasuk bimbingan karir untuk menyiapkan kemandirian dalam hal pekerjaan.
e.       Siswa SMP juga membutuhkan bimbingan tersebut, baik untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi maupun untuk mencari pekerjaan.

4.1  Standar Prosedur  Operasional (SPO) Kegiatan
Sikap tidak dapat dilihat bentuknya secara langsung, sedangkan keterampilan dapat tampak wujudnya dalam perbuatan seseorang. Sikap dasar seorang konselor meliputi:
1.        Penerimaan
Menerima kenyataan bahwa individu satu berbeda dari individu lain. Menyadari bahwa masing-masing orang mempunyai pengalaman yang kompleks. Konselor dapat menunjukan memlalui sika prilaku.
2.        Pemahaman
Berhubungan erat dengan empati, melihat lingkungan sebagaimana klien mempersiakannya, yaitu dari rangka acuan klien . Empati dapat di lakukan dengan cara menyelami perilaku pikiran sedalam mungkin.
3.        Kesejatian dan keterbukaan
Kesejatian pada dasarnya menunjk pada keselarasan ( harmoni ) yang mesti ada dalam pikiran dan perasaan konselor dengan aa yang terungkap melalui pperbuatan ataupun ucapan verbalnya. Atas pengertian umum ini, tampak kesejatian bersangkutan dengan label-label congruency, cincerity dan genuineness.
a.       Congruency : konsistensi internal (dalam pribadi) konselor diantaranya kepercayaan, sika dan nilai yang terpancar  dalam tingkah laku selama konseling.
  1. Cincerity : Keselaasan antara apa yang di lakukan dan di katakana.
  2. Genuine : senang dan ramah dengan keadaan dirinya dalam semua interaksi. Konselor tidak harus mengubah (diri) ketika berhadapan dengan bermacam-macam klien.
Sedangkan keterampilan konselor meliputi:
1.        Kompetensi intelektual, keterampilan komunikasi yang baik oleh konselor dapat membantu proses pemberian layanan kepada siswa.
2.        Kelincahan karsa-cipta, yaitu konselor tidak kaku, tanggap terhadap perubahan-perubahan sikap, persepsi, dan ekspektasi.
3.        Pengembangan keakraban, yaitu konselor betanggung jawab menciptakan, memantapkan, dan melanggengkan suasana akrab agar erjadi hubungan keterbukaan.
Dalam kode etik bimbingan dan konseling niilai, sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang harus dimiliki seorang praktikan/konselor pada saat memberi layanan kepada siswa adalah:
1.        Agar dapat memahami orang lain dengan sebaik-baiknya, konselor harus terus menerus berusaha menguasai dirinya. Ia harus mengerti kekurangan-kekurangan dan prasangka-prasangka pada dirinya sendiri yang dapat mempengaruhi  hubungannya dengan orang lain dan mengakibatkan rendahnya mutu layanan profesional serta merugikan klien.
2.        Dalam melakukan tugasnya membantu klien, konselor harus memperlihatkan sifat-sifat sederhana, rendah hati, sabar, menepati janji, dapat dipercayajujur, tertib, dan hormat.
3.        Konselor harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap saran ataupun peringatan yang diberikan kepadanya, khususnya dari rekan-rekan seprofesi dalam hubungannya dengan pelaksanaan ketentuan-ketentuan tingkah laku profesional sebagaimana diatur dalam Kode Etik ini.
4.        Dalam menjalankan tugas-tugasnya, konselor harus mengusahakan mutu kerja yang setinggi mungkin. Untuk itu ia harus tampil menggunakan teknik-teknik dan prosedur-prosedur khusus yang dikembangkan atas dasar kaidah-kaidah ilmiah.






























BAB III
PELAKSANAAN  PRAKTIK BIMBINGAN DAN KONSELING KARIR

3.1  Hasil Need Asesment
Persiapan yang dilakukan  oleh praktikan sebelum melakukan bimbingan karir yaitu praktikan mencari masalah yang dialami siswa dilihat berdasarkan derajat permasalahannya. Terutama pada derajat permasalahan yang menunjukkan huruf D dan E. Pada hal ini, praktikan melihat permasalahan dari DCM yang sudah di buat. Dari hasil pengolahan data (need asesment) mengenai kebutuhan dan permasalahan siswa yang akan lakukan, yaitu membuat mereka yang tadinya masih merasa cemas dengan pilihan karir kedepannya, menjadi tahu akan bagaimana cara mengurangi kecemasan dalam memilih karir. Maka dari itu saya selaku praktikan mencoba memberikan layanan informasi di bidang bimbingan karir dengan topik bahasan dengan judul mengurangi kecemasan dalam memilih karir. Dengan adanya layanan ini, harapan saya, mahasiswa dapat mengurangi kecemasannya dalam memilih karir dalam segala hal.

3.2              Pelaksanaan Praktik Layanan I (mengurangi kecemasan dalam memilih karier “Layanan Informasi”)
Pelaksanaan mata kuliah Praktik Bimbingan dan Konseling Karir setiap seminggu sekali pada hari Rabu pukul 11.00 – 14.20 WIB di ruang A1 104, FIP yang diampu oleh dosen mata kuliah tersebut. Praktikan mendapatkan kesempatan untuk melakukan simulasi satlan pada hari Rabu tanggal 5 November 2014 di gedung A1 104, Universitas Negeri Semarang.
Dalam praktik bimbingan karir ini, layanan yang digunakan adalah layanan informasi. Topik materinya adalah kecemasan dalam memilih karier dan dengan judul layanan “mengurangi kecemasan dalam memilih karier”. Materi diberikan untuk mahasiswa semester 3 dengan alokasi waktu 1 kali pertemuan selama 30 menit. Penyampaian layanan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab.


3.2.1        Kegiatan Awal
Kegiatan awal yang dilakukan pada simulasi praktik bimbingan karir ini adalah dengan membina hubungan baik dengan siswa, yaitu memberikan salam, menanyakan keadaan siswa, melakukan presensi kepada siswa. Kemudian juga menyampaikan maksud dan tujuan pemberian layanan.

3.2.2        Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti, praktikan menjelasakan materi layanan dan mengkondisikan perilaku siswa di kelas. Berikut yang dilakukan oleh praktikan:
1.      Konselor memaparkan tentang pengertian kecemasan.
2.      Konselor menjelaskan tentang pengertian pemilihan karier.
3.      Konselor menjelaskan tentang dampak kecemasan dalam memilih karir.
4.      Konselor menjelaskan tentang tips memilih karir yang tepat.
5.      Selain itu, konselor juga memberikan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dari mahasiswa.
6.      Mahasiswa juga dituntut aktif dengan dilempari pertanyaan-pertanyaan kemudian disimpulkan secara bersama agar dinamika kelompok tetap terjadi selama bimbingan klasikal tersebut.
7.      Setelah itu, dilanjutkan dengan diskusi kelompok mengenai materi yang sudah dijelaskan.

3.2.3         Kegiatan Penutup/Akhir
Pada kegiatan penutup/akhir ini, praktikan melakukan kegiatan:
1.      Konselor menyimpulkan materi yang telah disampaikan.
2.      Konselor memberikan pertanyaan-pertanyaan lisan secara acak untuk mengetahui pemahaman, perasaan dan komitmen siswa setelah mendapatkan materi layanan.
3.      Konselor memberikan saran-saran dan mengutarakan harapan-harapan untuk mahasiswa agar lebih baik untuk ke depannya.
4.      Konselor memberikan motivasi kepada mahasiswa.
5.      Konselor menutup pertemuan dengan salam.

3.3                   Pelaksanaan Praktik Layanan II (Mengurangi kecemasan dalam memilih karier “Layanan Penguasaan Konten”)
Pelaksanaan mata kuliah Praktik Bimbingan dan Konseling Karir setiap seminggu sekali pada hari Rabu pukul 11.00 – 14.20 WIB di ruang A1 104, FIP yang diampu oleh dosen mata kuliah tersebut. Praktikan mendapatkan kesempta untuk melakukan simulasi satlan pada hari Rabu tanggal 19 November 2014 di gedung A1 104, FIP, Universitas Negeri Semarang.
Dalam praktik bimbingan karir ini, layanan yang digunakan adalah layanan penguasaan konten. Topik materinya adalah kecemasan dalam memilih karier dan dengan judul layanan “mengurangi kecemasan dalam memilih karier”. Materi diberikan untuk mahasiswa semester 3 dengan alokasi waktu 1 kali pertemuan selama 30 menit. Penyampaian layanan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab.

3.3.1  Kegiatan Awal
Kegiatan awal yang dilakukan pada simulasi praktik bimbingan karir ini adalah dengan membina hubungan baik dengan siswa, yaitu memberikan salam, menanyakan keadaan siswa, melakukan presensi kepada siswa. Kemudian juga menyampaikan maksud dan tujuan pemberian layanan.

3.3.2             Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti, praktikan menjelasakan materi layanan dan mengkondisikan perilaku siswa di kelas. Berikut yang dilakukan oleh praktikan:
1.      Konselor memaparkan tentang pengertian kecemasan.
2.      Konselor menjelaskan tentang pengertian pemilihan karier.
3.      Konselor menjelaskan tentang dampak kecemasan dalam memilih karir.
4.      Konselor menjelaskan tentang tips memilih karir yang tepat.
5.      Selain itu, konselor juga memberikan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dari mahasiswa.
6.      Mahasiswa juga dituntut aktif dengan dilempari pertanyaan-pertanyaan kemudian disimpulkan secara bersama agar dinamika kelompok tetap terjadi selama bimbingan klasikal tersebut.
7.      Setelah itu, dilanjutkan dengan diskusi kelompok mengenai materi yang sudah dijelaskan.

3.3.3             Kegiatan Penutup/Akhir
Pada kegiatan penutup/akhir ini, praktikan melakukan kegiatan:
1.      Konselor menyimpulkan materi yang telah disampaikan.
2.      Konselor memberikan pertanyaan-pertanyaan lisan secara acak untuk mengetahui pemahaman, perasaan dan komitmen siswa setelah mendapatkan materi layanan.
3.      Konselor memberikan saran-saran dan mengutarakan harapan-harapan untuk mahasiswa agar lebih baik untuk ke depannya.
4.      Konselor memberikan motivasi kepada mahasiswa.
5.      Konselor menutup pertemuan dengan salam.

3.4  Evaluasi Pelaksanaan Praktik Bimbingan dan Konseling Karir
3.4.1  Perolehan hal baru (A) untuk layanan I & layanan II
Penilaian pada aspek pemahaman (understanding) merupakan penilaian mengenai pemahaman baru tentang sesuatu yang didapat oleh klien setelah mengikuti kegiatan layanan. Dalam aspek pemahaman ini, saya mengajukan pertanyaan seperti:
a.       Informasi baru apa yang diperoleh klien?
b.      Pengetahuan baru apa yang diperoleh klien?
Pemahaman murid yang mencakup pemahaman tentang potensi, kemampuan, karakteristik, kebutuhan dan masalah-masalah yang dihadapinya. Pemahaman tersebut akan menjadi dasar memilih alternatif strategi dan teknik bimbingan yang diberikan kepada murid tersebut. Pelaksanaan pemahaman individu dalam kegiatan bimbingan dan konseling berkaitan erat dengan fungsi dari bimbingan dan konseling itu sendiri.

3.4.2  Perasaan/kenyamanan (H) untuk layanan I & layanan II

Penilaian pada aspek afektif (comfort) merupakan aspek yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Aspek afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai.
Dalam penilaian aspek afektif ini saya menanyakan perasaan positif apa yang diperoleh oleh klien setelah melaksanakan kegiatan layanan, seperti rasa puas, lega, plong, tambah ringan, dll).
Ada beberapa cara yang dipakai untuk menilai aspek afektif peserta didik, yaitu:
a.       Pengamatan langsung di lapangan (di dalam kelas) oleh guru.
b.      Melalui angket atau kuesioner yang dibagikan kepada peserta didik.
c.       Melakukan wawancara langsung dengan pesertadidik.
d.      Melalui informasi dari rekan guru atau dari BK(Bimbingan Konseling) di Sekolah.
e.       Melalui kunjungan ke rumah peserta didik.   

3.4.3  Rencana Tindakan (B) untuk layananan I & II
Penilaian pada aspek action (aspek perbuatan), dalam kegiatan konseling dapat dilakukan dengan memberikan pertanyaan seperti:
a.       Setelah selesai pemberian layanan ini apa yang akan dilakukan untuk kedepannya?
b.      Apa tindakan kamu kedepannya dalam pemilihan karier?
Penilaian perbuatan dapat dilakukan dengan menggunakan observasi   atau pengamatan. Observasi  sebagai alat penilaian banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Dengan kata lain, observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar atau perbuatan. Misalnya tingkah laku peserta layanan ketika praktik, kegiatan diskusi peserta layanan, partisipasi peserta layanan dalam simulasi, dan penggunaan alins ketika belajar.




























BAB IV
PENUTUP
5.1  Simpulan
Bimbingan dan konseling karir adalah suatu upaya bantuan terhadap peserta didik agar dapat mengenal dan memahami dirinya, mengenal dunia kerjanya, mengembangkan masa depan sesuai dengan bentuk kehidupan yang diharapkannya, mampu menentukan dan mengambil keputusan secara tepat dan bertanggungjawab. Dalam bimbingan dan konseling karier terdapat beberapa layanan diantaranya yang dipakai dalam laporan ini adalah layanan informasi dengan judul mengurangi kecemasan dalam memilih karir agar siswa mendapatkan informasi mengenai kemandirian dalam memilih karier. Kemudian memakai layanan penguasaan konten dengan judul yang sama yang bertujuan agar siswa dapat menguasai bagaimana agar dapat mengurangi kecemasan dalam memilih karier. Layanan tersebut disampaikan dengan dalam format klasikal.


5.2  Saran
Diharapkan kepada pihak yang mengisi angket untuk benar- benar menguisi angket tersebut sesuai dengan diri bukan direkayasa atau melakukan suatu kebohongan, agar praktikan dapat menganalisis dengan baik dan apa yang diharapkan praktikan dapat tercapai dan memberikan manfaat baik bagi yang bermasalah dalam memilih karier maupun praktikan.







DAFTAR PUSTAKA

Winkel. 2005. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta : Media Abadi.
Wibowo, Mungin Eddy. 1992. Konseling Kelompok Perkembangan. Semarang: UPT         UNNES Press
Sukardi, Dewa Ketut. 1993. Proses Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka       Cipta















Refleksi Diri

Wawasan dan pengetahuan baru yang diperoleh dalam praktik
  1. Pengalaman Praktik
Pada praktik Bimbingan dan Konseling Karir ini, saya mendapatkan banyak  wawasan yang didapat. Dalam melakukan praktik dan observasi, saya mendapatkan pengalaman saya berinteraksi langsung dengan responden dan menjelaskan kepada mahasiswa tentang instrumen yang akan mereka kerjakan. Saya juga mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana berhadapan dengan teman sejurusan namun dengan konteks memberi layanan dan harus menahan rasa deg-degan , grogi, malu dan belajar bagaimana mengkondisikan mahasiswa saat dikelas. Karena hal tersebut sangat penting bagi saya yang dapat menjadi bekal saya dalam melakukan layanan klasikal kepada siswa saya nanti sehingga saya dapat menyampaikan motivasi serta informasi kepada para murid sehingga murid dapat mengerti dan memahaminya. Selain itu, saya juga mendapatkan wawasan tentang bagaimana menafsirkan hasil dari observasi yang saya lakukan, bagaimana saya menyampaikan dan berkomunikasi dengan mahasiswa di kelas agar terjalin suatu hubungan baik antara konselor dengan klien/siswa.
Hambatan dan Masalah yang Muncul dan Solusinya
  1. Hambatan dan masalah yang muncul
Hambatan dan masalah yang muncul ketika pelaksanaan praktik Bimbingan dan Konseling Karir di kelas dan pembuatan laporan. Hambatan-hambatan dan masalah yang dihadapi adalah sebagai berikut :
  1. Dari Konselor
·         Ketidakpercayaan diri ketika berkomunikasi dengan para mahasiswa.
·         Mengalami kesulitan dalam mengkondisikan kelas.
·         Dalam penyusunan laporan masih bingung sebab belum mengetahui sistematika dan bagaimana cara membuat laporan yang baik dan benar.
·         Dalam menganalisis instrumen, sedikit banyak mengalami kesulitan karena terdapat beberapa hal yang bermasalah.
  1. Dari Mahasiswa
Dari identifikasi masalah ditemukan beberapa hal yang menjadi penghambat mahasiswa dalam pengisian Angket adalah :
·         Terbatasnya waktu untuk melakukan pemberian informasi pengisian angket.
·         Kurang jelas tentang apa yang dilakukan selama pemberian layanan.
Ketidak pahaman mahasiswa tentang tujuan praktik Bimbingan dan Konseling Karir  ini dipandang wajar, sebab pelaksanaan praktik Bimbingan dan Konseling Karir ini sering dilakukan tapi siswa tidak mengetahui apa maksud dan tujuannya mereka hanya sekedar mengisi dan mereka menganggap mengisi seperti itu sudah sering tetapi tidak ada tindak lanjut dari guru BK. Maka wajar ketika siswa ada yang gaduh dan berbicara menganggap sepele dalam menjawab instrumen tersebut.

Solusi yang dilakukan
Untuk mengatasi hambatan-hambatan yang telah dipaparkan diatas, ada beberapa solusi yang dapat dilakukan yaitu :
  • Meningkatkan rasa kepercayaan diri ketika berbicara di depan kelas pada saat memberikan layanan.
  • Membaca terlebih dahulu panduan dari instrumen sehingga mendapatkan gambaran apa yang pertama kali dilakukan.
  • Mencoba mengajak mahasiswa untuk dapat menciptakan suasana kelas yang kondusif dengan cara yang menyenangkan.
  • Mencoba bertanya kepada teman dan dosen serta mencari sumber lain di buku.
  • Bertanya kepada teman atau kakak tingkat bagaimana cara menganalisis yang baik dan benar

0 komentar:

Posting Komentar

Tunjukkan jika tutur bahasmu baik dengan menggunakan kata-kata yang baik dan sopan :)