Jika ingin mendownload materi dibawah ini klik disini

LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR
DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
Paper
disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Metodologi
Penelitian Pendidikan, Dosen Pengampu Dra. M.Th. Sri Hartati, M.Pd.,Kons
disusun oleh :
Carissa Octora W. (1301413040)
Femy Ariefiane C. (1301413044)
Tara Gheasanti N. (1301413046)
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
A. Pengertian
Teori
Setelah masalah penelitian
dirumuskan, maka langkah kedua dalam proses penelitian (kuantitatif) adalah
mencari teori-teori, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi hasil
penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk pelaksanaan
penelitian (Sumadi Suryabrata, 1990). Landasan teori ini perlu ditegakkan agar
penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan sekedar perbuatan
coba-coba (trial and error). Adanya landasan teoritis ini merupakan ciri bahwa
penelitian itu merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data.
Dibawah ini terdapat pendapat para
ahli mengenai pengertian teori
1. Kerlinger
(1978) mengemukakan bahwa teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi,
dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui
spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan
dan meramalkan fenomena.
2. Wiliam
Wiersma (1986) menyatakan bahwa teori adalah generalisaasi atau kumpulan
generalisasi yang dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena secra
sistematik.
3. Sitirahayu
haditono (1999), menyatakan bahwa suatu teori akan memperoleh arti yang
penting, bila ia lebih banyak dapat melukiskan, menerangkan, dan meramalkan
gejala yang ada.
Mark 1963, dalam (Sitiahayu Haditono, 1999), membedakan
adanya tiga macam teori. Ketiga teori yang dimaksud ini berhubungan dengan data
empiris. Dengan demikian dapat dibedakan antara lain :
1) Teori
yang deduktif : memberi keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan atau
pikiran spekulatif tertentu ke arah data akan diterangkan.
2) Teori
yang induktif : adalah cara yang menerangkan dari data ke arah teori.
3) Teori
yang fungsional : disini tampak suatu interaksi pengaruh antara data dan
perkiraan teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan
teori kembali mempengaruhi data.
Berdasarkan tiga pandangan ini dapatlah disimpulkan bahwa
teori dapat dipandang sebagai berikut :
1) Teori
merujuk pada sekelompok hukum yang tersusun secara logis
2) Suatu
teori juga dapat merupakan suatu rangkuman tertulis mengenai suatu kelompok
hukum ynag diperoleh secara empiris dalam suatu bidang tertentu.
3) Suatu
teori juga dapat merujuk pada suatu cara menerangkan yang menggeneralisasi.
Teori
semacam ini mempunyai dasar empiris. suatu teori dapat memandang gejala yang
dihadapi dari sudut yang berbeda-beda, misalnya dapat dengan menerangkan,
tetapi dapat pula dengan menganalisa dan menginterpretasi secara kritis.
Teori adalah alur logika atau penalaran, yang
merupakan seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang disusun secara
sistematis. Secara umum, teori mempunyai tiga fungsi, yaitu untuk menjelaskan,
meramalkan, pengenalian suatu gejala.
Selanjutnya Hoy & Miskel (2001) mengemukakan
bahwa komponen teori itu meliputi konsep dan asumsi. Konsep merupakan istilah
yang bersifat abstak dan bermakna generalisasi, contohnya adalah kepemimpinan,
kepuasaan, organisasi informal. Sedangkan asumsi merupakan pernyataan diterima
kebenarannya tanpa pembuktian.
Setiap teori mengalami perkembangan, dan
perkembangan itu terjadi apabila teori sudah tidak relevan dan kurang berfungsi
lagi untuk mengatasi masalah. Mengapa pedidikan di Indonesia belum menghasilkan
SDM yang berkualitas, dapat dijelaskan melalui teori yang berfungsi
menjelaskan. Setelah SDM tidak berkualitas, maka bagaiman akibatnya terhadap
perekonomian dan iptek nasional, dijawab dengan teori yang berfungsi prediksi.
B. Tingkatan
dan Fokus Teori
Numun (2003) mengemukakan tingkatan
teori menjadi tiga yaitu micro, meso, dan maro. Yang selanjutnya fokus teori
dibedakan menjadi tiga yaitu subtantif, teori formal, dan midle range theory. Subtantive theory is developed for a specific
area of social concern, such as deliquent gangs, strikes, diforce or ras
relation.
Teori yang digunakan untuk perumusan
hipotesis yang akan diuji melalui pengumpulan data adalah teori subtantif,
karena teori ini lebih fokus berlaku untuk obyek yang akan diteliti.
C. Kegunaan
Teori dalam Penelitian
Teori-teori
pendidikan dapat dibagi menjadi teori umum pendidikan dan teori khusus
pendidikan. Teori umum pendidikan dapat dibagi menjadi filsafat-filsafat
pendidikan dan Ausland pedagogic (studi pendidikan luar negeri).
Cooper
and Schindler (2003), menyatakan bahwa kegunaan teori dalam penelitian adalah:
1. Teori mempersempit kisaran
sebenarnya kita perlu mempelajari.
2. Teori menyarankan pendekatan
penelitian yang mungkin untuk menghasilkan makna terbesar.
3. Teori menyarankan sistem untuk
penelitian untuk memaksakan pada data dalam rangka mengklasifikasikan mereka
dalam cara yang paling bermakna.
4. Teori merangkum apa yang diketahui
tentang objek studi dan menyatakan keseragaman yang berada di luar pengamatan
langsung.
5. Teori dapat digunakan untuk
memprediksi fakta lanjut yang harus ditemukan.
Selanjutnya
dinyatakan bahwa, ciri-ciri teori yang baik menurut Mouly adalah :
1. Sebuah sistem teoritis harus
memungkinkan pengurangan yang diuji secara empiris.
2. Sebuah teori harus kompatibel baik
dengan observasi dan dengan teori sebelumnya divalidasi.
3. Teori harus dinyatakan dalam istilah
yang sederhana, teori yang terbaik yang menjelaskan sebagian besar dalam bentuk
yang paling sederhana.
4. Teori-teori ilmiah harus didasarkan
pada fakta-fakta empiris dan hubungan.
Dalam
penelitian kuantitatif, teori yang digunakan harus sudah jelas karena teori di
sini sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis dan sebagai referensi untuk
menyusun instrumen penelitian. Oleh karena itu landasan teori dalam proposal
penelitian kuantitatif harus sudah jelas apa yang akan dipakai.
Teori digunakan untuk memperjelas dan mempertajam ruang
lingkup atau konstruk variabel yang akan diteliti, untuk merumuskan hipotesis
dan menyusun instrumen penelitian karena pada dasarnya hipotesis itu merupakan
pernyataan yang bersifat prediktif, untuk mencandra dan membahas hasil
penelitian sehingga selanjutnya digunakan untuk memberikan saran dalam upaya
pemecahan masalah.
Teori-teori pendidikan dapat tersusun di
dalam pohon ilmu pendidikan . akar dalam
ilmu pendidikan dikembangkan dari ilmu-ilmu tingkah laku, biologi, fifiologi,
psikologi, sosiologi, antropologi, ekonomi. Dan pengalaman secara
empirispraktik pendidikan disekolah serta di luar sekolah. Cita-cita hidup,
agama, hokum, kontitusi, sejarah serta adat istiadat serta digunakan sebagai
adat istiadat serta digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan ilmu
pendidikan.
Teori pendidikan dibagi menjadi dua
bagian yaitu teori umum dan khusus. Teori umum pendidikan dapat dibagi menjadi
filsafat-filsafat pendidikan dan ausland (studi pendidikan luar negri) di dalam
filsafat ada filsafat ilmu pendidikan dan praktek pendidikan. Filsafat praktek
pendidikan dapat di bagi menjadi: filsafat social pendidikan, filsafat proses
pendidikan. Filsafat proses pendidikan dibagi menjadi dua yaitu filsafat
pendidikan klasik dan modern.
Filsafat pendidikan klasik dapat dibagi
menjadi: filsafat pendidikan idealism klasik plato (1) filsafat pendidikan
aristoteles (2), filsafat pendidikan scholastisime (3), filsafat pendidikan
modern dapat dibagi menjadi: filsafat pendidikan modern awal (naturalistic
romantic, empiris, rasionalisme (4), dan filsafat pendidikan pasca modern
(pragunatisme, neo-protivisme, neo- realism, neo tomisme, ekksistensiialisme
(5), auslandpendagogik (studi pendidikan luar Negara) dapat di bagi menjadi
auslandpendagogik asia dan afrika (6), auslandpendagogik amerika dan Australia
(7), auslandpendagogik eropa barat dan timur (8).
Teori-teori khusus pendidikan dapat
dibagi menjadi teknologi pendidikan dan ilmu pendidkan. Tekhnologi pendidikan
dapat dibagi menjadi: menejemen pendidikan, pengembangan kurikulum, model-model
belajar mengajar dan evaluasi pensisikan. Manajemen pendidikan dapat dibagi
menjadi: perencanaan pendidikan (9), pengorganisasi pendidikan (10),
kepemimpinan pendidikan (11), dan pengawasan pendidikan (12), model-model
belajar mengajar dapat dibagi menjadi : model interaksi social (13), pemrosesan
informasi (14), mengajar pengembangan pribadi (15), mengajar perubahan tingkah
laku (16).
Ilmu pendidikan dapat dibagi menjadi
makro dan mikro. Makro dibagi menjadi : ilmu pendidikan administrasi,
komperatif,historis,serta ilmu pendidikan kedudukan. Sedangkan mikro dapat
dibagi menjadi ilmu pendidikan khusus, ilmu pendidikan umum. Ilmu mendidik
khusus dapat dibagi menjadi ilmu persekolahan, luar sekolah, ilmu pendidikan
luar biasa. Ilmu pendidikan persekolahan dpat dibagi menjadi : ilmu
administrasi sekolah (17) ilmu administyrasi kelas (18), ilmu admistrasi
kegiatan pendidikan (19), ilmu pendidikan luar sekolah dapat dibagi menjadi :
pendagogik keluarga (20), pendagogik TK (21), dan ilmu pendidikan masyarakat/
andragogi (22), ilmu pendidikan luar biasa (orthopendagogik) dapatdapat dibagi
menjadi orthopendagogik fisik (23), dan orthipendagogik mental (24), ilmu
pendidikan umum dapat dibagi menjadi : pendagogik teoritis(25), ilmu pendidikan
psikologis (26), ilmu pendidikan sosiologi (27),ilmu pendidikan antropologi
/etnografis (28), dan ilmu pendidikan ekonomik(29).
Selanjutnya Radja Mudyahardjo, (2002)
mengemukakan bahwa, sebuah teori pendidikan adalah sebuah system konsep yang
terpadu, menerangkan dan prediktif tentang peristiwa – peristiwa pendidikan.
Sebuah teori ada yang berperan sebagai asumsi atau titik tolak pemikiran pendidikan
dan ada pula yang bgerperan sebagai definisi atau keterangan yang menyatakan
makna. Asumsi pokok pendidikan adalah:
1. Pendidikan
adalah actual, artinya pendidikan bermula dari kondisi-kondisi actual dari
individu yang belajar dan lingkungan belajarnya.
2. Pendidikan
adalah normative, artinya pendidikan tertuju pada mencapai hal-hal yang baik
atau norma–norma yang baik.
3. Pendidikan
adalah suatu proses pencapaian tujuan, artinya pendidikan berupa serangkaian
kegiatan yang bermula dari kondisi–kondisi actual dari individu yang belajar,
tertuju pada pencapaian individu yang di harapkan.
Dalam kaitannya dengan kegiatan
penelitian, maka fungsi teori yang pertama digunakan untuk memperjelas dan
mempertajam ruang lingkup, atau konstruk variabel yang diteliti. Fungsi teori
yang kedua (prediksi dan pemandu untuk menemukan fakta) adalah untuk merumuskan
hipotesis dan menyusun instrument penelitian, karena pada dasarnya hipotesis
itu merupakan pernyataan yang bersifat prediktif. Selanjutnya fungsi teori yang
ketiga (control) digunakan mencandra dan membahas hasil penelitian, sehingga
selanjutnya digunakan untuk memberikan saran dalam upaya pemecahan masalah.
Dalam proses penelitian, terlihat bahwa
untuk dapat mengajukan hipotesis penelitian, maka peneliti harus membaca
buku-buku dan hasil-hasil penelitian yang relevan, lengkap dan mutakhir.
Membaca buku adalah prinsip berfikir deduksi dan membaca hasil penelitian
adalah prinsip berfikir induksi.
Dalam landasan teori perlu dikemukakan
deskripsi teori, dan kerangka berfikir , sehingga selanjutnya dapat dirumuskan
hipotesisi dan instrumen penelitian.
D. Deskripsi
Teori
Deskripsi teori dalam suatu
penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori ( dan bukan sekedar
pendapat pakar atau penulis buku ) dan hasil-hasil penelitian yang relevan
dengan variable yang diteliti. Berapa jumlah kelompok teori yang perlu
dikemukakan/dideskripsikan, akan tergantung pada luasnya permasalahan dan secra
teknis tergantung pada jumlah variable yang diteliti. Bila dalam suatu
penelitian terdapat tiga variable independen dan satu dependen, maka kelompok
teori yang perlu dideskripsikan ada empat kelompok teori, yaitu kelompok teori
yang berkenaan dengan tiga variable independen dan satu dependen. Oleh karena
itu, semakin banyak variable yang diteliti, maka akan semakin banyak teori yang
perlu dikemukakan.
Deskripsi
teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variable-variabel yang
diteliti, melalui pendefinisian dan uraian yang lengkap dan mendalam dari
berbagai referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan dan prediksi terhadap
hubungan antar variable yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah.
Teori-teori
yang dideskripsikan dalam proposal maupun laporan penelitian dapt digunakan
sebagai indicator apakah peneliti
menguasai teori dan konteks yang diteliti atau tidak. Variable-variabel
penelitian yang tidak dapat dijelaskan dengan baik, baik dari segi pengertian
maupun kedudukan dan hubungan antar variable yang diteliti, menunjukkan bahwa
peneliti tidak menguasai teori dan konteks penelitian.
Untuk
menguasai teori, maupun generalisasi-generalisasi dari hasil penelitian, maka
peneliti harus rajin membaca. Orang harus membaca dan membaca, dan menelaah
yang dibaca itu setuntas mungkin agar ia dapat menegakkan landasan yang kokoh bagi
langkah-langkah berikutnya. Membaca merupakan ketrampilan yang harus
dikembangkan dan dipupuk ( Sumadi Suryabrata, 1996 ).
Untuk
dapat membaca dengan baik maka peneliti harus mengetahui sumber-sumber bacaan.
Sumber-sumber bacaan dapat berbentuk buku-buku teks, kamus, ensiklopedia,
jurnal ilmiah dan hasil-hsail penelitian. Bila peneliti tidak memiliki
sumber-sumber bacaan sendiri, maka dapat melihat perpustakaan, baik
perpustakaan lembaga formal maupun perpustakaan pribadi.
Sumber
bacaan yang baik harus memenuhi tiga criteria, yaitu relevansi, kelengkapan dan
kemutakhiran ( kecuali penelitian sejarah, penelitian ini justru menggunakan
sumber-sumber bacaan lama ). Relevansi berkenaan dengan kecocokkan antara
variable yang diteliti dengan teori yang dikemukakan, kelengkapan berkenaan
dengan banyaknya sumber yang dibaca, kemutakhiran berkenaan dengan dimensi
waktu. Makin baru sumber yang digunakan, maka akan semakin mutakhir teori.
Hasil
penelitian yang relevan bukan berarti sama dengan yang akan diteliti, tetapi
masih dalam lingkup yang sama. Secara teknis, hasil penelitian yang relevan
dengan apa yang akan diteliti dapat dilihat dari : permasalahan yang diteliti,
waktu penelitian, tempat penelitian, sampel penelitian, metode penelitian,
analisis dan kesimpulan. Misalnya peneliti yang terdahulu, melakukan penelitian
tentang tingkat penjualan jenis kendaraan bermotor di jawa timur, dan peneliti
berikutnya meneliti di jawa barat. Jadi hanya berbeda lokasi saja. Peneliti
yang kedua ini dapat menggunakan hasil penelitian yang pertama.
Langkah-langkah
untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah sebagai berikut :
1. Tetapkan
nama variable yang diteliti dan jumlah variabelnya.
2. Cari
sumber-sumber bacaan ( buku, kamus, ensiklopedia, jurnal ilmiah, laporan
penelitian, skripsi, tesis dan disertasi ) yang sebanyak-banyaknya dan yang
relevan dengan setiap variable yang ditelitii.
3. Lihat
daftar isi setiap buku dan pilih topic yang relevan dengan setiap variable yang
akan diteliti.
4. Cari
definisi setiap variable yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan,
bandingkan antara satu sumber dengan sumber yang lain, dan pilih definisi yang
sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
5. Baca
seluruh isi topic buku yang sesuai dengan variable yang akan diteliti, lakukan
analisa, renungkan dan buatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap
sumber data yang dibaca.
6. Deskripsikan
teori-teori yang telah dibaca dari berbagai sumber ke dalam bentuk tulisan
dengan bahasa sendirri. Sumber-sumber bacaan yang dikutip atau yang digunakan
sebagai landasan untuk mendeskripsikan teori harus dicantumkan.
E. Kerangka
Berfikir
Uma sekaran dalam bukunya Business
Research (1992) mengemukakan bahwa kerangka berfikir merupakan model konseptual
tentang bagaiimana teori berhubungan dengan berbagai factor yang telah
diidentifikasi sebagai masalah yang penting.
Kerangka berfikir yang baik akan
menjelaskan secara teoritis pertautan antar variable yang akan diteliti. Jadi
secara teoritis perlu dijelaskan huubungan antar variable independen dan
dependen. Bila dalam penelitian ada variable moderator dan intervening, maka
juga perlu dijelaskan, mengapa variable itu ikut dilibatkan dalam penelitian.
Pertautan antar variable tersebut, selanjutnya dirumuskan ke dalam bentuk
paradigma penelitian. Oleh karena itu pada setiap penyusunan paradigma
penelitian harus didasarkan pada kerangka berfikir.
Kerangka berfikir dalam suatu
penelitian perlu dikemukakan apabila dalam penelitian tersebut berkenaan dua
variable atau lebih. Apabila penelitian hanya membahas sebuah variable atau
lebih secara mandiri, maka yang dilakukan peneliti disamping mengemukakan
deskripsi teoritis untuk masing-masing variable, juga argumentasi terhadap
variasi besaran variable yang diteliti ( Sp\apto Haryoko, 1999 ).
Penelitian yang berkenaan dengan dua
variable atau lebih, biasanya dirumuskan hipotesis yang berbentuk komparasi maupun hubungan.
Oleh karena itu dalam rangka menyusun hipotesis penelitian yang berbentuk
hubungan maupun komparasi, maka perlu dikemukan kerangka pemikiran yang
selanjutnya membuahkan hipotesis.
Seorang peneliti harus menguasai
teori-teori ilmiah sebagai dasar bagi argumentasi dalam menyusun kerangka
pemikiran yang membuahkan hipotesis. Kerangka pemikiran ini merupakan
penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi obyek permasalahan (
Suriasumantri, 1986 ). Kriteria utama agar suatu kerangka pemikiran bias
meyakinkan sesame ilmuan. Adalah alur-alur pikiran yang logis dalam membangun
suatu kerangka berfikir yang membuahkan kesimpulan yang berupa hipotesis. Jadi
kerangka berfikir merupakan sintesa tentang hubungan antar variable yang
disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan. Berdasarkan teori-teori
yang telah diseskripsikan tersebut selanjutnya dianalisis secar kritis dan
sistematis, sehingga menghasilkan sintesa tentang hubungan antar variable yang
teliti. Sintesa tentang hubungan variable tersebut, selanjutnya digunakan untuk
merumuskan hipotesis.
1. Menetapkan
variable yang diteliti
Untuk menentukan
kelompok teori apa yang perlu dikemukakan dalam menyusun kerangka berfikir
untuk pengajuan hipotesis, maka harus ditetapkan terlebih dahulu variable
penelitiannya. Berapa jumlah variable yang diteliti, dan apakah nama setiap
variable, merupakan titik tolak untuk menentukan teori yang akan dikemukakan.
2. Membaca
Buku dan Hasil Penelitian (HP)
Setelah variable
ditentukan, maka langkah berikutnya adalahh membaca buku-buku dan hasil
penelitian yang relevan. Buku-buku yang dibaca dapat berbentuk buku teks,
ensiklopedia dan kamus. Hasil penelitian yang dapat dibaca adalah, laporan
penelitian, jurnal ilmiah, skripsi, tesis, disertasi.
3. Deskripsi
Teori dan Hasil Penelitian (HP)
Dari buku-buku dan
hasil penelitiab yang dibaca akan dapat dikemukakan teori-teori yang berkenaan
dengan variable yang diteliti. Seperti telah dikemukakan, deskripsi teori
berisi tentang definisi terhadap masing-masing variable yang diteliti, uraian
rinci tentang ruang lingkup setiap variable dan kedudukan antara variable satu
dengan yang lain dalam konteks penelitian itu.
4. Analisis
Kritis terhadap Teori dan Hasil Penelitian
Pada tahap ini peneliti
melakukan analisis secara kritis terhadap teori-teori dan hasil penelitian yang
telah dikemukakan. Dalam analisis ini peneliti akan mengkaji apakah teori-teori
dan hasil penelitian yang telah ditetapkan itu betul-betul sesuai dengan obyek
penelitian atau tidak, karena sering terjadi teori-teori yang berasal dari luar
tidak sesuai dengan penelitian di dalam negeri.
5. Analisis
Komparatif Terhadap Teori dan Hasil Penelitian
Analisi komparatif
dilakukab dengan cara membandingkan antara teori satu dengan teori yang lain,
dan hasil penelitian satu dengan penelitian yang lain. Melalui analisis
komparatif ini peneliti dapat memadukan antara teori satu dengan teori yang
lain atau mereduksi bila dipandang terlalu luas.
6. Sintesa
Kesimpulan
Melalui balisis kritis
dan komparatif terhadap teori-teori dan hasil penelitian yang relvan dengan
semua variable yang diteliti, selanjutnya peneliti dapat melakukan sintesa
atau kesimpulan sementara. Perpaduan
sintesa antara variable satu dengan yang
lain akan menghasilkan kerangka berfikir yang selanjutnya dapat digunakan untuk
merumuskan hipotesis.
7. Kerangka
Berfikir
Setelah sintesa atau
kesimpulan sementara dapat dirumuskan maka selanjutnya disusun kerangka
berfikir. Kerangka berfikir yang dihasilkan dapat berupa kerangka berfikir yang
asosiatif/hubungan maupun komparatif/perbandingan.
8. Hipotesis
Berdasarkan kerangka
berfikir selanjutnya disusun hipotesis. Bila kerangka berfikir berbunyi “jika
guru kompeten, maka hasil belajar akan tinggi”, maka hipotesis nya berbunyi
“ada hubungan yang positif dan signifikan antara kompetensi guru dengan hasil
belajar”. Bbila kerangka berfikir berbunyi “karena lembaga pendidikan A
menggunakan teknologi pembelajaran yang tinggi, maka kualitas hasil belajar
akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan lembaga pendidikan B yang
berteknologi pembelajaran rendah” , maka hipotesisnya berbunyi “terdapat
perbedaan kualitas hasil belajar yang signifikann antara lembaga pendidikan A
dan B, atau hasil belajar lembaga pendidikan A lebih tinggi dibandingkan dengan
lembaga pendidikan B”
Selanjutnya uma sekaran ( 1992 )
mengemukakan bahwa, kerangka berfikir yang baik, memuat hal-hal berikut :
1. Variable-variabel
yang akan diteliti harus jelas.
2. Diskusi
dalam kerangka berfikir harus dapat menunjukkan dan menjelaskan
pertautan/hubungan anttar variable yang diteliti, dan ada teori yang mendasari.
3. Diskusi
juga harus dapat menunjukkan dan menjelaskan apakah hubungan anatar variable
itu positif atau negative, berbentuk simetris, kausal atau interaktif ( timbale
balik ).
4. Kerangka
berfikir tersebut selanjutnya perlu dinyatakan dalam bentuk diagram (paradigma
penelitian), sehinggan pihak lain dapat memahami kerangka piker yang
dikemukakan dalam penelitian.
F. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban
sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah
penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kaliman pertanyaan. Dikatakan
sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang
relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui
pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis
terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empirik dengan data.
Penelitian yang merumuskan hipotesis
adalah penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Pada penelitian
kuantitatif, tidak dirumuskan hipotesis, tetapi justru diharapkan dapat
ditemukan hipotesis. Selanjutnya hipotesis tersebut akan diuji oleh peneliti
dengan menggunakan pendekatan kuantitatif.
Dalam hal ini perlu dibedakan pengertian
dari hipotesis penelitian dan hipotesis statistik. Hipotesis statistik ada bila
penelitian bekerja dengan sampel.
Dalam suatu penelitian, dapat terjadi
adanya hipotesis penelitian, tetapi tidak ada hipotesis statistik. Penelitian
yang dilakukan pada seluruh populasi mungkin akan terdapat hipotesis penelitian
tetapi tidak akan ada hipotesis statistik. Ingat bahwa hipotesis itu berupa
jawaban sementara terhadap rumusan masalah dan hipotesis yang akan diuji ini
dinamakan Hipotesis Kerja. Dan sebagai lawannya adalah hipotesis nol (nihil).
Hipotesis kerja disusun berdasarkan atas teori yang dipandang halal, sedangkan
hipotesis nol dirumuskan karena teori yang digunakan masih diragukan
kehandalannya.
Contoh hipotesis penelitian :
1. Kemampuan
bahasa Asing murid-murid SLTA itu rendah
(hipotesis
deskriptif untuk populasi, hipotesis ini sering tidak dirumuskan dalam
penelitian sosial).
2. Tidak
terdapat perbedaan prestasi belajar antara Sekolah Negeri dan Swasta
(hipotesis
komparatif, untuk populasi).
3. Ada
hubungan positif antara penghasilan orangtua dengan ketersediaan fasilitas
belajar anak
(hipotesis
asosiatif, untuk populasi).
Pada contoh hipotesis diatas yang
diteliti adalah populasi, sehingga hipotesis statistiknya tidak ada. Yang ada
hanya hipotesis penelitian. Dalam pembuktiannya tidak ada istilah
“signifikansi”.
Contoh hipotesis penelitian yang
mengandung hipotesis statistik :
1. Ada
perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar dalam sampel dengan populasi.
Prestasi belajar anak paling tinggi dengan nilai 6,5.
(hipotesis
deskriptif, sering tidak dirumuskan dalam penelitian).
2. Terdapat
perbedaan yang signifikan antara semangat belajar anak dari keluarga petani dan
nelayan.
(hipotesis
komparatif, petani dan nelayan adalah sampel).
3. Ada
hubungan yang positif dan signifikan antara kerajinan belajar dengan prestasi
belajar anak pada sekolah A.
(hipotesis
asosiatif/hubungan; data dari sekolah A diambil dengan sampel).
Ada
hubungan positif artinya, bila anak rajin belajar maka prestasi belajar akan
meningkat.
Terdapat dua macam hipotesis penelitian yaitu :
hipotesis kerja dan hipotesis nol. Hipotesis kerja dinyatakan dalam kalimat
positif dan hipotesis nol dinyatakan dalam kalimat negatif.
Dalam statistik juga terdapat dua macam hipotesis
yaitu hipotesis kerja dan hipotesis alternatif. Dalam kegiatan penelitian, yang
diuji terlebih dahulu adalah hipotesis penelitian terutama pada hipotesis
kerjanya. Bila penelitian akan membuktian apakah hasil pengujian hipotesis itu signifikan
atau tidak, maka diperlukan hipotesis statistik. Teknik statistik yang
digunakan untuk menguji hipotesis ini adalah statistik inferensial. Statistik
yang bekerja dengan data populasi adalah statistik deskriptif.
Dalam hipotesis statistik yang diuji adalah
hipotesis nol, hipotesis yang menyatakan tidak ada perbedaan antara data sampel
dan data populasi. Yang diuji hipotesis nol karena peneliti tidak berharap ada
perbedaan antara sampel dan populasi atau statistik dan parameter. Parameter
adalah ukuran-ukuran yang berkenaan dengan sampel.
Bentuk-bentuk
Hipotesis Penelitian
a. Hipotesis
Deskriptif
Merupakan jawaban sementara terhadap
masalah deskriptif, yaitu yang berkenaan dengan variabel mandiri.
Contoh
:
1) Rumusan
Masalah Deskriptif
a) Berapa
lama daya taha berdiri karyawan toko lulusan SMK?
b) Seberapa
semangat belajar mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri?
2) Hipotesis
Deskriptif
Daya tahan berdiri karyawan toko
lulusan SMK sama dengan 6 jam/hari (Ho). Ini merupakan hipotesis nol, karena
daya tahan berdiri karyawan lulusan SMK yang ada pada sampel diharapkan tidak
berbeda secara signifikan dengan daya tahan yang ada pada populasi. (angka 6
jam/hari merupakan angka hasil pengamatan sementara)
Hipotesis alternatifnya adalah: Daya
tahan karyawan toko lulusan SMK
600 jam. “Tidak sama dengan” ini bisa berarti
lebih besar atau lebih kecil dari 600 jam.
3) Hipotesis
Statistik (hanya ada apabila berdasarkan data sampel)
Ho :
= 6jam/hari
Ha :
= 6jam/hari
Untuk rumusan masalah no. 2) hipotesis nolnya bisa berbentuk
demikian.
a)
Semangat belajar mahasiswa perguruan
tinggi negeri = 75% dari kriteria ideal yang ditetapkan
b)
Semangat belajar mahasiswa perguruan
tinggi negeri paling sedikit 60% dari kriteria ideal yang ditetapkan (paling
sedikit itu berarti lebih besar atau sama dengan 
c)
Semangat belajar mahasiswa perguruan
tinggi negeri paling banyak 60% dari kriteria ideal yang ditetapkan (paling
banyak itu berarti lebih kecil atau sama dengan
).
Dalam kenyataannya hipotesis yang
diajukan salah satu saja dan hipotesis mana yang dipilih tergantung pada teori
dan pengamatan pendahuluan yang dilakukan pada obyek. Hipotesis alternatifnya
masing-masing adalah:
a) Semangat
belajar mahasiswa perguruan tinggi negeri
75%
b) Semangat
belajar mahasiswa perguruan tinggi negeri
75%
c) Semangat
belajar mahasiswa perguruan tinggi negeri
75%
Hipotesis
statistiknya adalah (hanya ada bila berdasarkan data sampel)
a) Ho
: p = 75%
Ha : p
75%
b) Ho
: p
75%
Ha : p
75%
c) Ho
: p
75%
d) Ha
: p
75%
Tehnik
statistik yang digunakan untuk menguji ketiga hipotesis tersebut tidak sama.
Cara-cara pengujian hipotesis akan diberikan pada bab tersendiri, yaitu pada
bab analisis data.
b. Hipotesis
Komparatif
Merupakan
jawaban sementara terhadap rumusan masalah komparatif. Pada rumusan ini
variabelnya sama tetapi populasi atau sampelnya yang berbeda, atau keadaan itu
terjadi pada waktu yang berbedda.
Contoh :
1) Rumusan
Masalah Komparatif
Bagaimanakah
prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X bila dibandingkan dengan
perguruan tinggi Y?
2) Hipotesis
Komparatif
Berdasarkan
rumusan masalah komparatif tersebut dapat dikemukakan tiga model hipotesis nol
dan alternatifnya sebagai berikut:
Hipotesis Nol:
1) Ho:
Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar mahasiswa Perguruan
Tinggi
X dengan perguruan tinggi Y; atau terdapat persamaan prestasi belajar antara
mahasiswa Perguruan Tinggi X dan Y, atau
2) Ho:
Prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X lebih besar atau sama
dengan
(
Perguruan Tinggi Y (‘lebih besar atau sama
dengan’) = paling besar).
3) Ho:
Prestasi Belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X lebih kecil atau sama
dengan
(
) Perguruan Tinggi Y
(‘lebih kecil atau sama dengan’ = paling besar).
Hipotesis
Alternatif:
1) Ha:
Prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X lebih besar (atau lebih kecil)
dari Perguruan Tinggi Y.
2) Ha:
Prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X lebih kecil dari pada (
) Perguruan Tinggi Y.
3) Ha:
Prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X lebih besar (
Perguruan Tinggi Y.
3)
Hipotesis Statistik dapat dirumuskan sebagai berikut :
1) Ho :
= 
Ha : 
2) Ho : 
Ha : 
3) Ha : 
Ho : 
c. Hipotesis
Asosiatif
Adalah
jawaban sementara terhadap rumusan masalah asosiatif yaitu yang menanyakan
hubungan antara dua variabel atau lebih.
1) Rumusan
Masalah Asosiatif
Adakah hubungan yang positif dan
signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah
dengan iklim kerja sekolah
2) Hipotesis
Penelitian :
Terdapat hubungan yang positif dan
signifikan antara kepemimpinan kepala
sekolah dengan iklim kerja sekolah.
3) Hipotesis
Statistik
Ho : p = 0, ------ 0 berarti tidak ada hubungan
Ha : p
0,
------ “tidak samadengan nol” berarti lebih besar atau kurang (-) dari nol berarti ada hubungan
P = nilai
korelasi dalam formulasi yang dihipotesiskan.
Paradigma
Penelitian, Rumusan Masalah dan Hipotesis
Dengan
adanya paradigma penelitian, peneliti dapat menggunakan sebagai panduan untuk
merumuskan masalah dan hipotesis penelitiannya yang selanjutnya dapat digunakan
untuk panduan dalam pengumpulan data dan analisis. Pada setiap paradigma
penelitian minimal terdapat satu rumusan masalah penelitian yaitu masalah
deskriptif.
Contoh
:
a. Judul
Penelitian :
Hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan prestasi
belajar murid. (gaya kepemimpinan adalah variabel independen (X) dan prestasi
kerja adalah variabel dependen (Y)).
b. 
Paradigma
Penelitiannya, adalah :

Paradigma
Penelitiannya, adalah :
c. Rumusan
Masalah
1) Seberapa
baik gaya kepemimpinan Kepala Sekolah yang ditamilkan? (Bagimana X?)
2) Seberapa
baik prestasi belajar siswa? (Bagaimana Y?)
3) Adakah
hubungan yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan Kepala Sekolah dengan prestasi belajar siswa?
(Adakah hubungan antara X dan
Y?). Butir ini merupakan rumusan masalah asosiatif.
4) Bila
sampel penelitiannya guru golongan III dan IV, maka rumusan masalah komparatifnya adalah:
a)
Adakah perbedaan persepsi antara guru
Golongan III dan IV tentang gaya
kepemimpinan Kepala Sekolah?
b)
Adakah perbedaan persepsi antara guru
Golongan III dan IV tentang prestasi belajar murid?
d. Rumusan
Hipotesis Penelitian
1) Gaya
kepempinan yang ditampilkan Kepala Sekolah (X) ditampilkan kurang baik, dan nilainy paling tinggi 60%
dari kriteria yang diharapkan.
2) Prestasi
belajar murid (Y) kurang memuaskan dan nilainya paling tinggi 65.
3) Terdapat
hubungan yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan Kepala Sekolah dengan prestasi belajar murid,
artinya makin baik
kepemimpinan Kepala Sekolah, maka akan semakin baik prestasi belajar murid.
4) Terdapat
perbedaan persepsi tentang gaya kepemimpinan antara Gol I, II dan III.
5) Terdapat
perbedaan persepsi tentang prestasi kerja antara guru Gol III dan IV.
Untuk bisa diuji denga
statistik maka data yang akan didapatkan harus diangkatkan. Untuk bisa
diangkakan, maka diperlukan instrumen yang memiliki skala pengukuran. Untuk
judul diatas ada dua instrumen yaitu instrumen gaya kepemimpinan Kepala Sekolah
dan prestasi belajar murid.
Untuk judul penelitian yang
berisi dua variabel independen atau lebih, rumusan masalah penelitiannya akan
lebih banyak, demikian juga rumusan hipotesisnya.
Karakteristik
Hipotesis yang Baik
a. Merupakan
dugaan terhadap keadaan variabel mandiri, perbandingan keadaan variabel pada
berbagai sampel dan merupakan dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau
lebih.
b. Dinyatakan
dalam kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran.
c. Dapat
diuji dengan data yang dikumpulkan dengan metode – metode ilmiah
DAFTAR
PUSTAKA
Sugiyono, 2007, Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D)






0 komentar:
Posting Komentar
Tunjukkan jika tutur bahasmu baik dengan menggunakan kata-kata yang baik dan sopan :)