Selamat datang di blog Femy Ariefiane Chandra semoga bermanfaat dan selamat membaca ☺

Senin, 29 Desember 2014

Landasan Teori, Kerangka Berfikir dan Pengajuan Hipotesis

Jika ingin mendownload materi dibawah ini klik disini

Description: Unn35 logO's.jpg
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
Paper
disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan, Dosen Pengampu Dra. M.Th. Sri Hartati, M.Pd.,Kons



disusun oleh :

Carissa Octora W.       (1301413040)
Femy Ariefiane C.      (1301413044)
Tara Gheasanti N.       (1301413046)


JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014

A.    Pengertian Teori
            Setelah masalah penelitian dirumuskan, maka langkah kedua dalam proses penelitian (kuantitatif) adalah mencari teori-teori, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitian (Sumadi Suryabrata, 1990). Landasan teori ini perlu ditegakkan agar penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan sekedar perbuatan coba-coba (trial and error). Adanya landasan teoritis ini merupakan ciri bahwa penelitian itu merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data.
            Dibawah ini terdapat pendapat para ahli mengenai pengertian teori
1.      Kerlinger (1978) mengemukakan bahwa teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.
2.      Wiliam Wiersma (1986) menyatakan bahwa teori adalah generalisaasi atau kumpulan generalisasi yang dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena secra sistematik.
3.      Sitirahayu haditono (1999), menyatakan bahwa suatu teori akan memperoleh arti yang penting, bila ia lebih banyak dapat melukiskan, menerangkan, dan meramalkan gejala yang ada.
            Mark 1963, dalam (Sitiahayu Haditono, 1999), membedakan adanya tiga macam teori. Ketiga teori yang dimaksud ini berhubungan dengan data empiris. Dengan demikian dapat dibedakan antara lain :
1)      Teori yang deduktif : memberi keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan atau pikiran spekulatif tertentu ke arah data akan diterangkan.
2)      Teori yang induktif : adalah cara yang menerangkan dari data ke arah teori.
3)      Teori yang fungsional : disini tampak suatu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori kembali mempengaruhi data.
            Berdasarkan tiga pandangan ini dapatlah disimpulkan bahwa teori dapat dipandang sebagai berikut :
1)      Teori merujuk pada sekelompok hukum yang tersusun secara logis
2)      Suatu teori juga dapat merupakan suatu rangkuman tertulis mengenai suatu kelompok hukum ynag diperoleh secara empiris dalam suatu bidang tertentu.
3)      Suatu teori juga dapat merujuk pada suatu cara menerangkan yang menggeneralisasi.
                        Teori semacam ini mempunyai dasar empiris. suatu teori dapat memandang gejala yang dihadapi dari sudut yang berbeda-beda, misalnya dapat dengan menerangkan, tetapi dapat pula dengan menganalisa dan menginterpretasi secara kritis.
Teori adalah alur logika atau penalaran, yang merupakan seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang disusun secara sistematis. Secara umum, teori mempunyai tiga fungsi, yaitu untuk menjelaskan, meramalkan, pengenalian suatu gejala.
Selanjutnya Hoy & Miskel (2001) mengemukakan bahwa komponen teori itu meliputi konsep dan asumsi. Konsep merupakan istilah yang bersifat abstak dan bermakna generalisasi, contohnya adalah kepemimpinan, kepuasaan, organisasi informal. Sedangkan asumsi merupakan pernyataan diterima kebenarannya tanpa pembuktian.
Setiap teori mengalami perkembangan, dan perkembangan itu terjadi apabila teori sudah tidak relevan dan kurang berfungsi lagi untuk mengatasi masalah. Mengapa pedidikan di Indonesia belum menghasilkan SDM yang berkualitas, dapat dijelaskan melalui teori yang berfungsi menjelaskan. Setelah SDM tidak berkualitas, maka bagaiman akibatnya terhadap perekonomian dan iptek nasional, dijawab dengan teori yang berfungsi prediksi.

B.     Tingkatan dan Fokus Teori
            Numun (2003) mengemukakan tingkatan teori menjadi tiga yaitu micro, meso, dan maro. Yang selanjutnya fokus teori dibedakan menjadi tiga yaitu subtantif, teori formal, dan midle range theory. Subtantive theory is developed for a specific area of social concern, such as deliquent gangs, strikes, diforce or ras relation.
Teori yang digunakan untuk perumusan hipotesis yang akan diuji melalui pengumpulan data adalah teori subtantif, karena teori ini lebih fokus berlaku untuk obyek yang akan diteliti.
C.     Kegunaan Teori dalam Penelitian
            Teori-teori pendidikan dapat dibagi menjadi teori umum pendidikan dan teori khusus pendidikan. Teori umum pendidikan dapat dibagi menjadi filsafat-filsafat pendidikan dan Ausland pedagogic (studi pendidikan luar negeri).
Cooper and Schindler (2003), menyatakan bahwa kegunaan teori dalam penelitian adalah:
1.      Teori mempersempit kisaran sebenarnya kita perlu mempelajari.
2.      Teori menyarankan pendekatan penelitian yang mungkin untuk menghasilkan makna terbesar.
3.      Teori menyarankan sistem untuk penelitian untuk memaksakan pada data dalam rangka mengklasifikasikan mereka dalam cara yang paling bermakna.
4.      Teori merangkum apa yang diketahui tentang objek studi dan menyatakan keseragaman yang berada di luar pengamatan langsung.
5.      Teori dapat digunakan untuk memprediksi fakta lanjut yang harus ditemukan.
Selanjutnya dinyatakan bahwa, ciri-ciri teori yang baik menurut Mouly adalah :
1.    Sebuah sistem teoritis harus memungkinkan pengurangan yang diuji secara empiris.
2.    Sebuah teori harus kompatibel baik dengan observasi dan dengan teori sebelumnya divalidasi.
3.    Teori harus dinyatakan dalam istilah yang sederhana, teori yang terbaik yang menjelaskan sebagian besar dalam bentuk yang paling sederhana.
4.    Teori-teori ilmiah harus didasarkan pada fakta-fakta empiris dan hubungan.
                        Dalam penelitian kuantitatif, teori yang digunakan harus sudah jelas karena teori di sini sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis dan sebagai referensi untuk menyusun instrumen penelitian. Oleh karena itu landasan teori dalam proposal penelitian kuantitatif harus sudah jelas apa yang akan dipakai.
Teori digunakan untuk memperjelas dan mempertajam ruang lingkup atau konstruk variabel yang akan diteliti, untuk merumuskan hipotesis dan menyusun instrumen penelitian karena pada dasarnya hipotesis itu merupakan pernyataan yang bersifat prediktif, untuk mencandra dan membahas hasil penelitian sehingga selanjutnya digunakan untuk memberikan saran dalam upaya pemecahan masalah.
Teori-teori pendidikan dapat tersusun di dalam pohon  ilmu pendidikan . akar dalam ilmu pendidikan dikembangkan dari ilmu-ilmu tingkah laku, biologi, fifiologi, psikologi, sosiologi, antropologi, ekonomi. Dan pengalaman secara empirispraktik pendidikan disekolah serta di luar sekolah. Cita-cita hidup, agama, hokum, kontitusi, sejarah serta adat istiadat serta digunakan sebagai adat istiadat serta digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan ilmu pendidikan.
Teori pendidikan dibagi menjadi dua bagian yaitu teori umum dan khusus. Teori umum pendidikan dapat dibagi menjadi filsafat-filsafat pendidikan dan ausland (studi pendidikan luar negri) di dalam filsafat ada filsafat ilmu pendidikan dan praktek pendidikan. Filsafat praktek pendidikan dapat di bagi menjadi: filsafat social pendidikan, filsafat proses pendidikan. Filsafat proses pendidikan dibagi menjadi dua yaitu filsafat pendidikan klasik dan modern.
Filsafat pendidikan klasik dapat dibagi menjadi: filsafat pendidikan idealism klasik plato (1) filsafat pendidikan aristoteles (2), filsafat pendidikan scholastisime (3), filsafat pendidikan modern dapat dibagi menjadi: filsafat pendidikan modern awal (naturalistic romantic, empiris, rasionalisme (4), dan filsafat pendidikan pasca modern (pragunatisme, neo-protivisme, neo- realism, neo tomisme, ekksistensiialisme (5), auslandpendagogik (studi pendidikan luar Negara) dapat di bagi menjadi auslandpendagogik asia dan afrika (6), auslandpendagogik amerika dan Australia (7), auslandpendagogik eropa barat dan timur (8).
Teori-teori khusus pendidikan dapat dibagi menjadi teknologi pendidikan dan ilmu pendidkan. Tekhnologi pendidikan dapat dibagi menjadi: menejemen pendidikan, pengembangan kurikulum, model-model belajar mengajar dan evaluasi pensisikan. Manajemen pendidikan dapat dibagi menjadi: perencanaan pendidikan (9), pengorganisasi pendidikan (10), kepemimpinan pendidikan (11), dan pengawasan pendidikan (12), model-model belajar mengajar dapat dibagi menjadi : model interaksi social (13), pemrosesan informasi (14), mengajar pengembangan pribadi (15), mengajar perubahan tingkah laku (16).
Ilmu pendidikan dapat dibagi menjadi makro dan mikro. Makro dibagi menjadi : ilmu pendidikan administrasi, komperatif,historis,serta ilmu pendidikan kedudukan. Sedangkan mikro dapat dibagi menjadi ilmu pendidikan khusus, ilmu pendidikan umum. Ilmu mendidik khusus dapat dibagi menjadi ilmu persekolahan, luar sekolah, ilmu pendidikan luar biasa. Ilmu pendidikan persekolahan dpat dibagi menjadi : ilmu administrasi sekolah (17) ilmu administyrasi kelas (18), ilmu admistrasi kegiatan pendidikan (19), ilmu pendidikan luar sekolah dapat dibagi menjadi : pendagogik keluarga (20), pendagogik TK (21), dan ilmu pendidikan masyarakat/ andragogi (22), ilmu pendidikan luar biasa (orthopendagogik) dapatdapat dibagi menjadi orthopendagogik fisik (23), dan orthipendagogik mental (24), ilmu pendidikan umum dapat dibagi menjadi : pendagogik teoritis(25), ilmu pendidikan psikologis (26), ilmu pendidikan sosiologi (27),ilmu pendidikan antropologi /etnografis (28), dan ilmu pendidikan ekonomik(29).
Selanjutnya Radja Mudyahardjo, (2002) mengemukakan bahwa, sebuah teori pendidikan adalah sebuah system konsep yang terpadu, menerangkan dan prediktif tentang peristiwa – peristiwa pendidikan. Sebuah teori ada yang berperan sebagai asumsi atau titik tolak pemikiran pendidikan dan ada pula yang bgerperan sebagai definisi atau keterangan yang menyatakan makna. Asumsi pokok pendidikan adalah:
1.      Pendidikan adalah actual, artinya pendidikan bermula dari kondisi-kondisi actual dari individu yang belajar dan lingkungan belajarnya.
2.      Pendidikan adalah normative, artinya pendidikan tertuju pada mencapai hal-hal yang baik atau norma–norma yang baik.
3.      Pendidikan adalah suatu proses pencapaian tujuan, artinya pendidikan berupa serangkaian kegiatan yang bermula dari kondisi–kondisi actual dari individu yang belajar, tertuju pada pencapaian individu yang di harapkan.

Dalam kaitannya dengan kegiatan penelitian, maka fungsi teori yang pertama digunakan untuk memperjelas dan mempertajam ruang lingkup, atau konstruk variabel yang diteliti. Fungsi teori yang kedua (prediksi dan pemandu untuk menemukan fakta) adalah untuk merumuskan hipotesis dan menyusun instrument penelitian, karena pada dasarnya hipotesis itu merupakan pernyataan yang bersifat prediktif. Selanjutnya fungsi teori yang ketiga (control) digunakan mencandra dan membahas hasil penelitian, sehingga selanjutnya digunakan untuk memberikan saran dalam upaya pemecahan masalah.
Dalam proses penelitian, terlihat bahwa untuk dapat mengajukan hipotesis penelitian, maka peneliti harus membaca buku-buku dan hasil-hasil penelitian yang relevan, lengkap dan mutakhir. Membaca buku adalah prinsip berfikir deduksi dan membaca hasil penelitian adalah prinsip berfikir induksi.
Dalam landasan teori perlu dikemukakan deskripsi teori, dan kerangka berfikir , sehingga selanjutnya dapat dirumuskan hipotesisi dan instrumen penelitian.
D.    Deskripsi Teori
            Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori ( dan bukan sekedar pendapat pakar atau penulis buku ) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variable yang diteliti. Berapa jumlah kelompok teori yang perlu dikemukakan/dideskripsikan, akan tergantung pada luasnya permasalahan dan secra teknis tergantung pada jumlah variable yang diteliti. Bila dalam suatu penelitian terdapat tiga variable independen dan satu dependen, maka kelompok teori yang perlu dideskripsikan ada empat kelompok teori, yaitu kelompok teori yang berkenaan dengan tiga variable independen dan satu dependen. Oleh karena itu, semakin banyak variable yang diteliti, maka akan semakin banyak teori yang perlu dikemukakan.
Deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variable-variabel yang diteliti, melalui pendefinisian dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar variable yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah.
Teori-teori yang dideskripsikan dalam proposal maupun laporan penelitian dapt digunakan sebagai indicator apakah  peneliti menguasai teori dan konteks yang diteliti atau tidak. Variable-variabel penelitian yang tidak dapat dijelaskan dengan baik, baik dari segi pengertian maupun kedudukan dan hubungan antar variable yang diteliti, menunjukkan bahwa peneliti tidak menguasai teori dan konteks penelitian.
Untuk menguasai teori, maupun generalisasi-generalisasi dari hasil penelitian, maka peneliti harus rajin membaca. Orang harus membaca dan membaca, dan menelaah yang dibaca itu setuntas mungkin agar ia dapat menegakkan landasan yang kokoh bagi langkah-langkah berikutnya. Membaca merupakan ketrampilan yang harus dikembangkan dan dipupuk ( Sumadi Suryabrata, 1996 ).
Untuk dapat membaca dengan baik maka peneliti harus mengetahui sumber-sumber bacaan. Sumber-sumber bacaan dapat berbentuk buku-buku teks, kamus, ensiklopedia, jurnal ilmiah dan hasil-hsail penelitian. Bila peneliti tidak memiliki sumber-sumber bacaan sendiri, maka dapat melihat perpustakaan, baik perpustakaan lembaga formal maupun perpustakaan pribadi.
Sumber bacaan yang baik harus memenuhi tiga criteria, yaitu relevansi, kelengkapan dan kemutakhiran ( kecuali penelitian sejarah, penelitian ini justru menggunakan sumber-sumber bacaan lama ). Relevansi berkenaan dengan kecocokkan antara variable yang diteliti dengan teori yang dikemukakan, kelengkapan berkenaan dengan banyaknya sumber yang dibaca, kemutakhiran berkenaan dengan dimensi waktu. Makin baru sumber yang digunakan, maka akan semakin mutakhir teori.
Hasil penelitian yang relevan bukan berarti sama dengan yang akan diteliti, tetapi masih dalam lingkup yang sama. Secara teknis, hasil penelitian yang relevan dengan apa yang akan diteliti dapat dilihat dari : permasalahan yang diteliti, waktu penelitian, tempat penelitian, sampel penelitian, metode penelitian, analisis dan kesimpulan. Misalnya peneliti yang terdahulu, melakukan penelitian tentang tingkat penjualan jenis kendaraan bermotor di jawa timur, dan peneliti berikutnya meneliti di jawa barat. Jadi hanya berbeda lokasi saja. Peneliti yang kedua ini dapat menggunakan hasil penelitian yang pertama.
Langkah-langkah untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah sebagai berikut :
1.      Tetapkan nama variable yang diteliti dan jumlah variabelnya.
2.      Cari sumber-sumber bacaan ( buku, kamus, ensiklopedia, jurnal ilmiah, laporan penelitian, skripsi, tesis dan disertasi ) yang sebanyak-banyaknya dan yang relevan dengan setiap variable yang ditelitii.
3.      Lihat daftar isi setiap buku dan pilih topic yang relevan dengan setiap variable yang akan diteliti.
4.      Cari definisi setiap variable yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, bandingkan antara satu sumber dengan sumber yang lain, dan pilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
5.      Baca seluruh isi topic buku yang sesuai dengan variable yang akan diteliti, lakukan analisa, renungkan dan buatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca.
6.      Deskripsikan teori-teori yang telah dibaca dari berbagai sumber ke dalam bentuk tulisan dengan bahasa sendirri. Sumber-sumber bacaan yang dikutip atau yang digunakan sebagai landasan untuk mendeskripsikan teori harus dicantumkan.



E.     Kerangka Berfikir
            Uma sekaran dalam bukunya Business Research (1992) mengemukakan bahwa kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaiimana teori berhubungan dengan berbagai factor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.
            Kerangka berfikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variable yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan huubungan antar variable independen dan dependen. Bila dalam penelitian ada variable moderator dan intervening, maka juga perlu dijelaskan, mengapa variable itu ikut dilibatkan dalam penelitian. Pertautan antar variable tersebut, selanjutnya dirumuskan ke dalam bentuk paradigma penelitian. Oleh karena itu pada setiap penyusunan paradigma penelitian harus didasarkan pada kerangka berfikir.
            Kerangka berfikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila dalam penelitian tersebut berkenaan dua variable atau lebih. Apabila penelitian hanya membahas sebuah variable atau lebih secara mandiri, maka yang dilakukan peneliti disamping mengemukakan deskripsi teoritis untuk masing-masing variable, juga argumentasi terhadap variasi besaran variable yang diteliti ( Sp\apto Haryoko, 1999 ).
            Penelitian yang berkenaan dengan dua variable atau lebih, biasanya dirumuskan hipotesis  yang berbentuk komparasi maupun hubungan. Oleh karena itu dalam rangka menyusun hipotesis penelitian yang berbentuk hubungan maupun komparasi, maka perlu dikemukan kerangka pemikiran yang selanjutnya membuahkan hipotesis.
            Seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar bagi argumentasi dalam menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis. Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi obyek permasalahan ( Suriasumantri, 1986 ). Kriteria utama agar suatu kerangka pemikiran bias meyakinkan sesame ilmuan. Adalah alur-alur pikiran yang logis dalam membangun suatu kerangka berfikir yang membuahkan kesimpulan yang berupa hipotesis. Jadi kerangka berfikir merupakan sintesa tentang hubungan antar variable yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan. Berdasarkan teori-teori yang telah diseskripsikan tersebut selanjutnya dianalisis secar kritis dan sistematis, sehingga menghasilkan sintesa tentang hubungan antar variable yang teliti. Sintesa tentang hubungan variable tersebut, selanjutnya digunakan untuk merumuskan hipotesis.
1.      Menetapkan variable yang diteliti
Untuk menentukan kelompok teori apa yang perlu dikemukakan dalam menyusun kerangka berfikir untuk pengajuan hipotesis, maka harus ditetapkan terlebih dahulu variable penelitiannya. Berapa jumlah variable yang diteliti, dan apakah nama setiap variable, merupakan titik tolak untuk menentukan teori yang akan dikemukakan.
2.      Membaca Buku dan Hasil Penelitian (HP)
Setelah variable ditentukan, maka langkah berikutnya adalahh membaca buku-buku dan hasil penelitian yang relevan. Buku-buku yang dibaca dapat berbentuk buku teks, ensiklopedia dan kamus. Hasil penelitian yang dapat dibaca adalah, laporan penelitian, jurnal ilmiah, skripsi, tesis, disertasi.
3.      Deskripsi Teori dan Hasil Penelitian (HP)
Dari buku-buku dan hasil penelitiab yang dibaca akan dapat dikemukakan teori-teori yang berkenaan dengan variable yang diteliti. Seperti telah dikemukakan, deskripsi teori berisi tentang definisi terhadap masing-masing variable yang diteliti, uraian rinci tentang ruang lingkup setiap variable dan kedudukan antara variable satu dengan yang lain dalam konteks penelitian itu.
4.      Analisis Kritis terhadap Teori dan Hasil Penelitian
Pada tahap ini peneliti melakukan analisis secara kritis terhadap teori-teori dan hasil penelitian yang telah dikemukakan. Dalam analisis ini peneliti akan mengkaji apakah teori-teori dan hasil penelitian yang telah ditetapkan itu betul-betul sesuai dengan obyek penelitian atau tidak, karena sering terjadi teori-teori yang berasal dari luar tidak sesuai dengan penelitian di dalam negeri.
5.      Analisis Komparatif Terhadap Teori dan Hasil Penelitian
Analisi komparatif dilakukab dengan cara membandingkan antara teori satu dengan teori yang lain, dan hasil penelitian satu dengan penelitian yang lain. Melalui analisis komparatif ini peneliti dapat memadukan antara teori satu dengan teori yang lain atau mereduksi bila dipandang terlalu luas.
6.      Sintesa Kesimpulan
Melalui balisis kritis dan komparatif terhadap teori-teori dan hasil penelitian yang relvan dengan semua variable yang diteliti, selanjutnya peneliti dapat melakukan sintesa atau  kesimpulan sementara. Perpaduan sintesa antara variable satu dengan  yang lain akan menghasilkan kerangka berfikir yang selanjutnya dapat digunakan untuk merumuskan hipotesis.
7.      Kerangka Berfikir
Setelah sintesa atau kesimpulan sementara dapat dirumuskan maka selanjutnya disusun kerangka berfikir. Kerangka berfikir yang dihasilkan dapat berupa kerangka berfikir yang asosiatif/hubungan maupun komparatif/perbandingan.
8.      Hipotesis
Berdasarkan kerangka berfikir selanjutnya disusun hipotesis. Bila kerangka berfikir berbunyi “jika guru kompeten, maka hasil belajar akan tinggi”, maka hipotesis nya berbunyi “ada hubungan yang positif dan signifikan antara kompetensi guru dengan hasil belajar”. Bbila kerangka berfikir berbunyi “karena lembaga pendidikan A menggunakan teknologi pembelajaran yang tinggi, maka kualitas hasil belajar akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan lembaga pendidikan B yang berteknologi pembelajaran rendah” , maka hipotesisnya berbunyi “terdapat perbedaan kualitas hasil belajar yang signifikann antara lembaga pendidikan A dan B, atau hasil belajar lembaga pendidikan A lebih tinggi dibandingkan dengan lembaga pendidikan B”
            Selanjutnya uma sekaran ( 1992 ) mengemukakan bahwa, kerangka berfikir yang baik, memuat hal-hal berikut :
1.      Variable-variabel yang akan diteliti harus jelas.
2.      Diskusi dalam kerangka berfikir harus dapat menunjukkan dan menjelaskan pertautan/hubungan anttar variable yang diteliti, dan ada teori yang mendasari.
3.      Diskusi juga harus dapat menunjukkan dan menjelaskan apakah hubungan anatar variable itu positif atau negative, berbentuk simetris, kausal atau interaktif ( timbale balik ).
4.      Kerangka berfikir tersebut selanjutnya perlu dinyatakan dalam bentuk diagram (paradigma penelitian), sehinggan pihak lain dapat memahami kerangka piker yang dikemukakan dalam penelitian.

F.      Hipotesis
            Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kaliman pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empirik dengan data.
            Penelitian yang merumuskan hipotesis adalah penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Pada penelitian kuantitatif, tidak dirumuskan hipotesis, tetapi justru diharapkan dapat ditemukan hipotesis. Selanjutnya hipotesis tersebut akan diuji oleh peneliti dengan menggunakan pendekatan kuantitatif.
Dalam hal ini perlu dibedakan pengertian dari hipotesis penelitian dan hipotesis statistik. Hipotesis statistik ada bila penelitian bekerja dengan sampel.
Dalam suatu penelitian, dapat terjadi adanya hipotesis penelitian, tetapi tidak ada hipotesis statistik. Penelitian yang dilakukan pada seluruh populasi mungkin akan terdapat hipotesis penelitian tetapi tidak akan ada hipotesis statistik. Ingat bahwa hipotesis itu berupa jawaban sementara terhadap rumusan masalah dan hipotesis yang akan diuji ini dinamakan Hipotesis Kerja. Dan sebagai lawannya adalah hipotesis nol (nihil). Hipotesis kerja disusun berdasarkan atas teori yang dipandang halal, sedangkan hipotesis nol dirumuskan karena teori yang digunakan masih diragukan kehandalannya.
            Contoh hipotesis penelitian :
1.      Kemampuan bahasa Asing murid-murid SLTA itu rendah
(hipotesis deskriptif untuk populasi, hipotesis ini sering tidak dirumuskan dalam penelitian sosial).
2.      Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar antara Sekolah Negeri dan Swasta
(hipotesis komparatif, untuk populasi).
3.      Ada hubungan positif antara penghasilan orangtua dengan ketersediaan fasilitas belajar anak
(hipotesis asosiatif, untuk populasi).
Pada contoh hipotesis diatas yang diteliti adalah populasi, sehingga hipotesis statistiknya tidak ada. Yang ada hanya hipotesis penelitian. Dalam pembuktiannya tidak ada istilah “signifikansi”.
            Contoh hipotesis penelitian yang mengandung hipotesis statistik :
1.      Ada perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar dalam sampel dengan populasi. Prestasi belajar anak paling tinggi dengan nilai 6,5.
(hipotesis deskriptif, sering tidak dirumuskan dalam penelitian).
2.      Terdapat perbedaan yang signifikan antara semangat belajar anak dari keluarga petani dan nelayan.
(hipotesis komparatif, petani dan nelayan adalah sampel).
3.      Ada hubungan yang positif dan signifikan antara kerajinan belajar dengan prestasi belajar anak pada sekolah A.
(hipotesis asosiatif/hubungan; data dari sekolah A diambil dengan sampel).
Ada hubungan positif artinya, bila anak rajin belajar maka prestasi belajar akan meningkat.

Terdapat dua macam hipotesis penelitian yaitu : hipotesis kerja dan hipotesis nol. Hipotesis kerja dinyatakan dalam kalimat positif dan hipotesis nol dinyatakan dalam kalimat negatif.
Dalam statistik juga terdapat dua macam hipotesis yaitu hipotesis kerja dan hipotesis alternatif. Dalam kegiatan penelitian, yang diuji terlebih dahulu adalah hipotesis penelitian terutama pada hipotesis kerjanya. Bila penelitian akan membuktian apakah hasil pengujian hipotesis itu signifikan atau tidak, maka diperlukan hipotesis statistik. Teknik statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis ini adalah statistik inferensial. Statistik yang bekerja dengan data populasi adalah statistik deskriptif.
Dalam hipotesis statistik yang diuji adalah hipotesis nol, hipotesis yang menyatakan tidak ada perbedaan antara data sampel dan data populasi. Yang diuji hipotesis nol karena peneliti tidak berharap ada perbedaan antara sampel dan populasi atau statistik dan parameter. Parameter adalah ukuran-ukuran yang berkenaan dengan sampel.

Bentuk-bentuk Hipotesis Penelitian
a.       Hipotesis Deskriptif
Merupakan jawaban sementara terhadap masalah deskriptif, yaitu yang berkenaan dengan variabel mandiri.


Contoh :
1)      Rumusan Masalah Deskriptif
a)      Berapa lama daya taha berdiri karyawan toko lulusan SMK?
b)      Seberapa semangat belajar mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri?
2)      Hipotesis Deskriptif
            Daya tahan berdiri karyawan toko lulusan SMK sama dengan 6 jam/hari (Ho). Ini merupakan hipotesis nol, karena daya tahan berdiri karyawan lulusan SMK yang ada pada sampel diharapkan tidak berbeda secara signifikan dengan daya tahan yang ada pada populasi. (angka 6 jam/hari merupakan angka hasil pengamatan sementara)
            Hipotesis alternatifnya adalah: Daya tahan karyawan toko lulusan SMK  600 jam. “Tidak sama dengan” ini bisa berarti lebih besar atau lebih kecil dari 600 jam.
3)      Hipotesis Statistik (hanya ada apabila berdasarkan data sampel)
Ho       :                     =          6jam/hari
Ha       :                     =          6jam/hari
          :           Adalah nilai rata-rata populasi yang dihipotesiskan atau                                ditaksir melalui sampel

Untuk rumusan masalah no. 2) hipotesis nolnya bisa berbentuk demikian.
a)      Semangat belajar mahasiswa perguruan tinggi negeri = 75% dari kriteria ideal yang ditetapkan
b)      Semangat belajar mahasiswa perguruan tinggi negeri paling sedikit 60% dari kriteria ideal yang ditetapkan (paling sedikit itu berarti lebih besar atau sama dengan
c)      Semangat belajar mahasiswa perguruan tinggi negeri paling banyak 60% dari kriteria ideal yang ditetapkan (paling banyak itu berarti lebih kecil atau sama dengan ).
            Dalam kenyataannya hipotesis yang diajukan salah satu saja dan hipotesis mana yang dipilih tergantung pada teori dan pengamatan pendahuluan yang dilakukan pada obyek. Hipotesis alternatifnya masing-masing adalah:
a)      Semangat belajar mahasiswa perguruan tinggi negeri  75%
b)     Semangat belajar mahasiswa perguruan tinggi negeri  75%
c)      Semangat belajar mahasiswa perguruan tinggi negeri  75%
            Hipotesis statistiknya adalah (hanya ada bila berdasarkan data sampel)
a)      Ho : p = 75%
Ha : p  75%
b)     Ho : p  75%
Ha : p  75%
c)      Ho : p  75%
d)     Ha : p  75%
                        Tehnik statistik yang digunakan untuk menguji ketiga hipotesis tersebut tidak sama. Cara-cara pengujian hipotesis akan diberikan pada bab tersendiri, yaitu pada bab analisis data.
b.      Hipotesis Komparatif
                              Merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah komparatif. Pada rumusan ini variabelnya sama tetapi populasi atau sampelnya yang berbeda, atau keadaan itu terjadi pada waktu yang berbedda.
 Contoh :
1)     Rumusan Masalah Komparatif
                              Bagaimanakah prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X bila dibandingkan dengan perguruan tinggi Y?

2)     Hipotesis Komparatif
                              Berdasarkan rumusan masalah komparatif tersebut dapat dikemukakan tiga model hipotesis nol dan alternatifnya sebagai berikut:
            Hipotesis Nol:
1)      Ho: Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar mahasiswa Perguruan
Tinggi X dengan perguruan tinggi Y; atau terdapat persamaan prestasi belajar antara mahasiswa Perguruan Tinggi X dan Y, atau
2)     Ho: Prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X lebih besar atau sama
dengan ( Perguruan Tinggi Y (‘lebih besar atau sama dengan’) = paling besar).
3)      Ho: Prestasi Belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X lebih kecil atau sama
dengan () Perguruan Tinggi Y (‘lebih kecil atau sama dengan’ = paling besar).

Hipotesis Alternatif:
1)      Ha: Prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X lebih besar (atau lebih kecil) dari Perguruan Tinggi Y.
2)      Ha: Prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X lebih kecil dari pada () Perguruan Tinggi Y.
3)      Ha: Prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X lebih besar ( Perguruan Tinggi Y.
3) Hipotesis Statistik dapat dirumuskan sebagai berikut :
1)      Ho       :            =
Ha       :          
2)      Ho       :          
Ha       :          
3)      Ha       :          
Ho       :          
        : rata-rata (populasi) produktivitas karyawan PT. X
        : rata-rata (populasi) produktivitas karyawan PT. Y

c.       Hipotesis Asosiatif
                   Adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah asosiatif yaitu yang menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih.
1)      Rumusan Masalah Asosiatif
            Adakah hubungan yang positif dan signifikan antara kepemimpinan kepala                         sekolah dengan iklim kerja sekolah
2)      Hipotesis Penelitian :
            Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kepemimpinan                                  kepala sekolah dengan iklim kerja sekolah.
3)      Hipotesis Statistik
            Ho : p = 0,       ------ 0 berarti tidak ada hubungan
            Ha : p  0,      ------ “tidak samadengan nol” berarti lebih besar atau                                                    kurang (-) dari nol berarti ada hubungan
                                    P = nilai korelasi dalam formulasi yang dihipotesiskan.

Paradigma Penelitian, Rumusan Masalah dan Hipotesis
       Dengan adanya paradigma penelitian, peneliti dapat menggunakan sebagai panduan untuk merumuskan masalah dan hipotesis penelitiannya yang selanjutnya dapat digunakan untuk panduan dalam pengumpulan data dan analisis. Pada setiap paradigma penelitian minimal terdapat satu rumusan masalah penelitian yaitu masalah deskriptif.

Contoh :
a.       Judul Penelitian :
Hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan prestasi belajar murid. (gaya kepemimpinan adalah variabel independen (X) dan prestasi kerja adalah variabel dependen (Y)).
b.      Rounded Rectangle: YRounded Rectangle: XParadigma Penelitiannya, adalah :
 



c.       Rumusan Masalah
1)   Seberapa baik gaya kepemimpinan Kepala Sekolah yang ditamilkan?      (Bagimana X?)
2)   Seberapa baik prestasi belajar siswa? (Bagaimana Y?)
3)   Adakah hubungan yang positif dan signifikan antara gaya           kepemimpinan Kepala Sekolah dengan prestasi belajar siswa? (Adakah          hubungan antara X dan Y?). Butir ini merupakan rumusan masalah      asosiatif.
4)   Bila sampel penelitiannya guru golongan III dan IV, maka rumusan        masalah komparatifnya adalah:
a)    Adakah perbedaan persepsi antara guru Golongan III dan IV tentang            gaya kepemimpinan Kepala Sekolah?
b)   Adakah perbedaan persepsi antara guru Golongan III dan IV tentang prestasi belajar murid?
d.      Rumusan Hipotesis Penelitian
1)   Gaya kepempinan yang ditampilkan Kepala Sekolah (X) ditampilkan      kurang baik, dan nilainy paling tinggi 60% dari kriteria yang diharapkan.
2)   Prestasi belajar murid (Y) kurang memuaskan dan nilainya paling tinggi 65.
3)   Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara gaya          kepemimpinan Kepala Sekolah dengan prestasi belajar murid, artinya             makin baik kepemimpinan Kepala Sekolah, maka akan semakin baik      prestasi belajar murid.
4)   Terdapat perbedaan persepsi tentang gaya kepemimpinan antara Gol I,   II dan III.
5)   Terdapat perbedaan persepsi tentang prestasi kerja antara guru Gol III    dan IV.
                 Untuk bisa diuji denga statistik maka data yang akan didapatkan harus diangkatkan. Untuk bisa diangkakan, maka diperlukan instrumen yang memiliki skala pengukuran. Untuk judul diatas ada dua instrumen yaitu instrumen gaya kepemimpinan Kepala Sekolah dan prestasi belajar murid.
                 Untuk judul penelitian yang berisi dua variabel independen atau lebih, rumusan masalah penelitiannya akan lebih banyak, demikian juga rumusan hipotesisnya.
Karakteristik Hipotesis yang Baik
a.       Merupakan dugaan terhadap keadaan variabel mandiri, perbandingan keadaan variabel pada berbagai sampel dan merupakan dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih.
b.      Dinyatakan dalam kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran.
c.       Dapat diuji dengan data yang dikumpulkan dengan metode – metode ilmiah

DAFTAR PUSTAKA

Sugiyono, 2007, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D)





0 komentar:

Posting Komentar

Tunjukkan jika tutur bahasmu baik dengan menggunakan kata-kata yang baik dan sopan :)